Senin, 31 Agustus 2015

Kisah seorang istri yang bisa membuat suaminya tergila-gila padanya

Asalamualaikum ... bertemu lagi di coretan penaku "marleni"... saya akn berbagi kisah untuk kalian semua,,, baca ya semoga bermanfaat :)


Seorang Ayah bercerita pd anak perempuannya,
Suatu hari seorang wanita tua diwawancarai oleh seorang presenter dalam sebuah acara tentang rahasia kebahagiaannya yang tak pernah putus.

Apakah hal itu karena ia pintar memasak? Atau karena ia cantik? Atau karena ia bisa melahirkan banyak anak, ataukah karena apa?

Wanita itu menjawab :

“Sesungguhnya rahasia kabahagiaan suami istri
ada di tangan sang istri, tentunya setelah mendapat taufik dari Allah. Seorang istri mampu menjadikan rumahnya laksana surga, juga mampu menjadikannya neraka.

Jangan Anda katakan karena harta !
Sebab betapa banyak istri kaya raya namun ia rusak karenanya, lalu sang suami meninggalkannya.

Jangan pula Anda katakan karena anak-anak !
Bukankah banyak istri yang mampu melahirkan banyak anak hingga sepuluh namun sang suami tak mencintainya, bahkan mungkin menceraikannya.
Dan betapa banyak istri yang pintar memasak.
Di antara mereka ada yang mampu memasak hingga seharian tapi meskipun begitu ia sering mengeluhkan tentang perilaku buruk sang suami.”

Maka sang peresenter pun terheran, segera ia berucap:

“Lantas apakah #rahasia nya..?”

Wanita itu menjawab:

“Saat suamiku marah dan meledak-ledak, segera aku diam dengan rasa hormat padanya. Aku tundukkan kepalaku dengan penuh rasa maaf.
Tapi janganlah Anda diam yang disertai pandangan mengejek, sebab seorang lelaki sangat cerdas untuk memahami itu.”

“Kenapa Anda tidak keluar dari
kamar saja..?” tukas presenter.
Wanita itu segera menjawab:
“Jangan Anda lalukan itu! Sebab suamimu akan menyangka bahwa Anda lari dan tak sudi mendengarkannya. Anda harus diam dan menerima segala yang diucapkannya hingga ia tenang.
Setelah ia tenang, aku katakan padanya;
'Apakah sudah selesai?'
Selanjutnya aku keluar….
Sebab ia pasti lelah dan butuh istirahat setelah melepas ledakan amarahnya.
Aku keluar dan melanjutkan kembali pekerjaan rumahku.”
“Apa yang Anda lakukan?
Apakah Anda menghindar darinya dan tidak berbicara dengannya selama sepekan atau lebih?” tanya presenter penasaran.
Wanita itu menasehati :
“Anda jangan lakukan itu, sebab itu kebiasaan buruk. Itu senjata yang bisa menjadi bumerang buat Anda.
Saat Anda menghindar darinya sepekan sedang ia ingin meminta maaf kepada Anda, maka menghindar darinya akan membuatnya kembali marah.
Bahkan mungkin ia akan jauh lebih murka dari sebelumnya.”

“Lalu apa yang Anda lakukan..?” tanya sang presenter terus mengejar.

Wanita itu menjawab:

“Selang dua jam atau lebih, aku bawakan untuknya segelas jus buah atau secangkir kopi, dan kukatakan padanya, Silakan diminum.

 Aku tahu ia pasti membutuhkan hal yang demikian, maka aku berkata-kata padanya seperti tak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.”
Apakah Anda marah padanya..?” ucap presenter dengan muka takjub.

#Wanita itu berkata:

“Tidak...

Dan saat itulah suamiku mulai meminta maaf padaku dan ia berkata dengan suara yang lembut.”

“Dan Anda mempercayainya..?” ujar sang presenter.

Wanita itu menjawab :

“Ya. Pasti. Sebab aku percaya dengan diriku dan aku bukan orang bodoh.
Apakah Anda ingin aku mempercayainya saat ia marah lalu tidak mempercayainya saat ia tenang..?”

“Lalu bagaimana dengan harga diri Anda?” potong sang presenter.

“Harga diriku ada pada ridha suamiku dan pada tentramnya hubungan kami.
Dan sejatinya antara #suami #istri sudah tak ada lagi yang namanya harga diri.
Harga diri apa lagi..?!!
Padahal di hadapan suami Anda, Anda telah lepaskan semua pakaian Anda!”

 







Salam dari saya 
Best Regards 
Nona Marleni 

Terima Kasih  Ustadz Fairus Ahmad atas inspirasinya :)


Minggu, 11 Januari 2015

Pentingnya Ujian Dalam Kehidupan Manusia

Asalamualaikum ^_^

Hai guys bertemu lagi sama akuh Nona Marleni eeiiitss sekarang gue bukan Nona Han lg lo ya .... -_-

Kalian pastinya udah pernah ngalamin saat kita tertimpa msalah, ujian dtang bertobe" ... iya kan :( kdang qt tdk bsa bngkit dlm keterpurukan, hmpir mnyerah karna lemahnya iman qt :(

Tapi ujian yg qt alami itu sangat penting dlm khidupan qt looh...
Seperti yang dijelaskan, bahwa hidup dan mati sengaja diciptakan Allah swt sebagai ujian bagi setiap manusia, agar Dia tahu siapa yang terbaik di antara mereka. Begitulah yang dikatakan Allah swt dalam surat al-Mulk [67]: 2. Dengan demikian, kehidupan di dunia ini adalah ujian yang tidak akan pernah berakhir, sampai datangnya kematian sebagai akhir “drama” kehidupan manusia di pentas dunia. Dalam surat al-Balad [90]: 4, Allah swt berfirman
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
Artinya: “Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam kesusahan.”
Pernyataan tersebut Allah ungkapkan setelah terlebih dahulu Dia bersumpah dengan al-Balad/negeri Makah (tempat kediaman manusia), dan dengan Adam serta keturunannya (manusia). Dengan demikian, Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa manusia memang sengaja diciptakan Allah swt untuk menghadapi kesusahan dan kesulitan.
Kesusahan dan kepayahan manusia selama di dunia, tidak akan pernah berhenti semenjak dalam kandungan sampai kematiannya datang. Bahkan, kematian itu sendiri adalah puncak dari kesusahan dan kepayahan hidup. Dalam kehidupan di dunia ini, setiap manusia selalu berhadapan dengan berbagai bentuk kesulitan dan kesusahan. Kalaupun dia bisa melepaskan diri dari satu kesulitan, maka dia akan menghadapi kesulitan yang lain. Misalnya, seorang yang masih dalam bangku pendidikan merasa kesusahan dengan materi pelajaran. Setelah lulus dan selesai dari bangku pendidikan, dia kembali menghadapi kesusahan untuk mendapatkan pekerjaan. Begitu memperoleh pekerjaan, muncul lagi kesusahan baru menghadapi rekan seprofesi di kantor begitulah seterusnya.
Manusia yang berhenti pada satu tahap kesusahan, akan menjadi orang yang putus asa dan pesimis. Dia akan memandang hidup ini dengan pandangan hampa. Namun, orang yang beriman justru akan menjadi semakin optimis dan berjuang keras untuk menyelesaikan semua kesulitan itu. Sebab, seorang yang beriman meyakini bahwa setiap kesulitan itu pasti mempunyai jalan keluar, dan yang pasti kesulitan itu tidak akan deberikan Allah swt, melainkan sesuai batas kemampuan manusia itu sendiri memikulnya.
Manusia memang harus menanggung resiko kehidupan dunia ini. Ia harus siap menghadapi kesulitan dan kepayahan, karena hidup memang diciptakan untuk itu. Akan tetapi, semua itu bertujuan baik, karena dengan kesulitan-kesulitan itulah, Allah swt meningkatkan derajat manusia itu sendiri. Allah swt berfirman dalam surat Ali-Imran [3]: 142
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
Artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk sorga padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjuang di antara kamu dan belum nyata siapa yang sabar.”
Dalam surat al-Ankabut [29]:2, Allah swt juga berfirman
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Artinya: "Apakah manusia mengira akan dibiarkan saja mengatakan kami telah beriman, sementara mereka belum mendapatkan ujian?.”
Hal itu berarti, bahwa ujian bagi manusia sebenarnya bertujuan baik; yaitu meningkatkan kualitas manusia itu sendiri. Bukankah dengan ujian seorang siswa bisa naik kelas?. Dan bukankah dengan ujian juga, manusia biasa bisa menjadi orang besar dan disegani manusia lain?.
Oleh karena itu, ujian atau kesulitan bukanlah sesuatau yang jelek dan buruk, bahkan justru harus didambakan, diharapkan atau bahkan dicari. Ujian tidak boleh dihindari atau ditakuti, karena ujian itu sendiri kebaikan. Akan tetapi, yang salah dan buruk adalah gagal dalam menghadapi ujian dan kesulitan itu. Semakin banyak ujian dan kesulitan yang dihadapi, akan semakin tinggilah mutu seseorang kalau dia berhasil menyelesaikannya. Bukankah ikan yang enak dagingnya, adalah ikan yang sering berenang di air deras?. Dan bukankah emas yang sering dibakar akan semakin mengkilat?.
Namun demikian, satu hal yang mesti diyakini, bahwa seberapa banyakpun ujian dan kesulitan yang dihadapi, jumlahnya tetap masih sedikit bila dibandingkan dengan ni'mat yang telah diterima. Bukankah Allah swt telah mengatakan dalam surat al-baqarah [2]: 155, "Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit daripada rasa takut, rasa lapar, kekurangan harta dan jiwa serta buah-buahan…”. Karena sedikitnya kesusahan itu, sering tanpa kita sadari muncul ungkapan "untung". Misalnya, ketika datang gempa di suatu daerah yang menghancurkan semua rumah, namun penghuninya selamat, kita berkata “Untunglah rumah saja yang hancur, penghuninya masih selamat”. Ketika rumah hancur dan semua penghuninya luka parah, kita berkata lagi “Untunglah rumah saja yang hancur dan penghuninya hanya luka-luka”, begitulah seterusnya. Secara tidak disadari manusia mengakui bahwa betapa besar dan banyaknya kesulitan itu, ia masih dianggap sedikit. Agaknya itulah yang membuat nabi Ayyub as. malu meminta kesembuhan penyakitnya kepada Allah swt, karena menilai kesusahannya sangatlah sedikit sekali bila dibandingkan dengan kenikmatan yang telah diperolehnya selama ini. Dan hal yang pasti adalah, bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan, karena kemudahan diciptakan Allah swt jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan kesulitan. Begitulah yang dimaksud Allah swt dalam surat Alam Nasyrah [94]: 5-6, dengan melakukan pengulangan dua ayat dengan redaksi yang sama.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا(5)إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا(6)
Artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (5), sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (6).”
Menurut gramatika bahasa Arab, jika kata yang berbentuk ma’rifah (difinit/ tertentu) diulang sebutannya dua kali, maka yang dimaksud adalah satu. Namun, jika kata yang berbentuk nakirah (indifinit/ tidak tentu) diulang sebutannya dua kali, maka yang dimaksud adalah dua hal yang berbeda. Dengan demikian, ayat di atas menegaskan bahwa al-‘usr yang berarti kesulitan, bentuknya satu karena diungkapkan dalam bentuk ma’rifah. Sementara yusr yang berarti kemudahan bentuknya dua, karena diungkapkan dalam pola nakirah. Kesimpulannya adalah bahwa dalam satu kesulitan, Allah swt telah menciptakan dua kemudahan atau lebih. Sehingga di dunia ini pada hakikatnya kemudahan jauh lebih banyak dari kesulitan.
Berdasarkan hal itu, maka tidak ada peluang bagi manusia untuk putus asa ketika menghadapi suatu kesulitan. Tinggal lagi, usaha mereka untuk menemukan jalan kemudahan guna keluar dari kesulitan yang sedang dihadapinya.

Semoga Bermanfaat yaahhh guyss
Nona Marleni ^_^

Jumat, 18 Oktober 2013

KEGAGALAN bukanlah awal dari suatu KEHANCURAN

Hai guys berjumpa lagi dengan Coretan Pena Marleni ^_^... saya akan berbagi tips pada kalian semua semoga bermanfaat ya :) ...

Kegagalan bukanlah awal dari suatu Kehancuran

Cara yang palin tepat menghadapi kegagalan adalah dengan bersifat benar dan tawakal kepada Allah, karena sikap kita sendirilah yang akan menentukan apakah kita bisa maju atau malah hancur.
Emmm.. kayaknya sejak dari dulu kita memang sulit untuk menerima suat kegagalan,tapi kali ini kita gak sah bingung guys,,, karena saya mempunyai sedkit saran.
  • Semua orang pernah mengalami kegagalan...Maksudnya,kalu kita gak ma gagal, ya gak usah hidup,karena semua orang sukses, dulunya pasti pernah mengalami kegagalan dan mereka berusaha menggali kembali kegagalan itu mulai dari bawah.
  • Pelajari penyebab kegagalan itu.., Terimalah semua kritikan dari teman-temanmu, itu sebagai bentk masukan untuk memperbaikinya.
  • Janganlah menyalahkan diri sendiri... Kekalahan biasanya hanya dalam pikiran kita masing - masing kalau kita merasa itu boleh saja,, tapi hars bisa mengmbil pelajaran dari semua itu. Kaliau kita gagal dalam mlakukan brbagai hal apapun , bukan berarti dunia harus kiamat,Siapa tahu kita nanti bisa menjadi orang no 1 di lingkungan yang belum pernah kita bayangkan.
  • Cari hikmah di balik kegagalan,, Allah SWT memeberikan kgagaln untuk kita. Orang yang selalu sukses tentnya akan sulit bersyukur kepada Allah. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya gagal, kamu akan tahu bagaimana sisis baik dan kegagalan itu.
  • Jangan Kapok untuk mencobanya lagi... Rajutlah kembali ketekunan dan daya kreasimu untuk berusaha kembali. Kesematan ini akan selalu ada jika mau berusaha sekuat tenaga.
  • Doa da tawakal kepada Allah..Yakinlah bahwa ketentuan Allah selalu baik buat kita dan bisa membuat hati kita sendiri menjadi ikhlas menerima apapun dri hasil jerih payah upaya maksimal kita.. jangan pernah berpikir bahwa nasib kita adalah yang ada di depan mata saat ini,,, nasib kita bisa di perbaiki sepanjang usia kita seiring dengan doa,ikhtiyar dan tawakal kepada Allah SWT.

Selamat membaca semoga bermanfaat.
Best Regards
Marleni ^_^