Asalamualaikum ^_^
Hai guys bertemu lagi sama akuh Nona Marleni eeiiitss sekarang gue bukan Nona Han lg lo ya .... -_-
Kalian pastinya udah pernah ngalamin saat kita tertimpa msalah, ujian dtang bertobe" ... iya kan :( kdang qt tdk bsa bngkit dlm keterpurukan, hmpir mnyerah karna lemahnya iman qt :(
Tapi ujian yg qt alami itu sangat penting dlm khidupan qt looh...
Seperti yang dijelaskan, bahwa hidup dan mati sengaja diciptakan Allah
swt sebagai ujian bagi setiap manusia, agar Dia tahu siapa yang terbaik
di antara mereka. Begitulah yang dikatakan Allah swt dalam surat al-Mulk
[67]: 2. Dengan demikian, kehidupan di dunia ini adalah ujian yang
tidak akan pernah berakhir, sampai datangnya kematian sebagai akhir
“drama” kehidupan manusia di pentas dunia. Dalam surat al-Balad [90]: 4,
Allah swt berfirman
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
Artinya: “Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam kesusahan.”
Pernyataan
tersebut Allah ungkapkan setelah terlebih dahulu Dia bersumpah dengan
al-Balad/negeri Makah (tempat kediaman manusia), dan dengan Adam serta
keturunannya (manusia). Dengan demikian, Allah menegaskan dalam ayat ini
bahwa manusia memang sengaja diciptakan Allah swt untuk menghadapi
kesusahan dan kesulitan.
Kesusahan dan kepayahan manusia selama di
dunia, tidak akan pernah berhenti semenjak dalam kandungan sampai
kematiannya datang. Bahkan, kematian itu sendiri adalah puncak dari
kesusahan dan kepayahan hidup. Dalam kehidupan di dunia ini, setiap
manusia selalu berhadapan dengan berbagai bentuk kesulitan dan
kesusahan. Kalaupun dia bisa melepaskan diri dari satu kesulitan, maka
dia akan menghadapi kesulitan yang lain. Misalnya, seorang yang masih
dalam bangku pendidikan merasa kesusahan dengan materi pelajaran.
Setelah lulus dan selesai dari bangku pendidikan, dia kembali menghadapi
kesusahan untuk mendapatkan pekerjaan. Begitu memperoleh pekerjaan,
muncul lagi kesusahan baru menghadapi rekan seprofesi di kantor
begitulah seterusnya.
Manusia yang berhenti pada satu tahap
kesusahan, akan menjadi orang yang putus asa dan pesimis. Dia akan
memandang hidup ini dengan pandangan hampa. Namun, orang yang beriman
justru akan menjadi semakin optimis dan berjuang keras untuk
menyelesaikan semua kesulitan itu. Sebab, seorang yang beriman meyakini
bahwa setiap kesulitan itu pasti mempunyai jalan keluar, dan yang pasti
kesulitan itu tidak akan deberikan Allah swt, melainkan sesuai batas
kemampuan manusia itu sendiri memikulnya.
Manusia memang harus
menanggung resiko kehidupan dunia ini. Ia harus siap menghadapi
kesulitan dan kepayahan, karena hidup memang diciptakan untuk itu. Akan
tetapi, semua itu bertujuan baik, karena dengan kesulitan-kesulitan
itulah, Allah swt meningkatkan derajat manusia itu sendiri. Allah swt
berfirman dalam surat Ali-Imran [3]: 142
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
Artinya:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk sorga padahal belum nyata
bagi Allah orang-orang yang berjuang di antara kamu dan belum nyata
siapa yang sabar.”
Dalam surat al-Ankabut [29]:2, Allah swt juga berfirman
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Artinya: "Apakah manusia mengira akan dibiarkan saja mengatakan kami telah beriman, sementara mereka belum mendapatkan ujian?.”
Hal
itu berarti, bahwa ujian bagi manusia sebenarnya bertujuan baik; yaitu
meningkatkan kualitas manusia itu sendiri. Bukankah dengan ujian seorang
siswa bisa naik kelas?. Dan bukankah dengan ujian juga, manusia biasa
bisa menjadi orang besar dan disegani manusia lain?.
Oleh karena
itu, ujian atau kesulitan bukanlah sesuatau yang jelek dan buruk, bahkan
justru harus didambakan, diharapkan atau bahkan dicari. Ujian tidak
boleh dihindari atau ditakuti, karena ujian itu sendiri kebaikan. Akan
tetapi, yang salah dan buruk adalah gagal dalam menghadapi ujian dan
kesulitan itu. Semakin banyak ujian dan kesulitan yang dihadapi, akan
semakin tinggilah mutu seseorang kalau dia berhasil menyelesaikannya.
Bukankah ikan yang enak dagingnya, adalah ikan yang sering berenang di
air deras?. Dan bukankah emas yang sering dibakar akan semakin
mengkilat?.
Namun demikian, satu hal yang mesti diyakini, bahwa
seberapa banyakpun ujian dan kesulitan yang dihadapi, jumlahnya tetap
masih sedikit bila dibandingkan dengan ni'mat yang telah diterima.
Bukankah Allah swt telah mengatakan dalam surat al-baqarah [2]: 155,
"Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit daripada rasa takut, rasa
lapar, kekurangan harta dan jiwa serta buah-buahan…”. Karena sedikitnya
kesusahan itu, sering tanpa kita sadari muncul ungkapan "untung".
Misalnya, ketika datang gempa di suatu daerah yang menghancurkan semua
rumah, namun penghuninya selamat, kita berkata “Untunglah rumah saja
yang hancur, penghuninya masih selamat”. Ketika rumah hancur dan semua
penghuninya luka parah, kita berkata lagi “Untunglah rumah saja yang
hancur dan penghuninya hanya luka-luka”, begitulah seterusnya. Secara
tidak disadari manusia mengakui bahwa betapa besar dan banyaknya
kesulitan itu, ia masih dianggap sedikit. Agaknya itulah yang membuat
nabi Ayyub as. malu meminta kesembuhan penyakitnya kepada Allah swt,
karena menilai kesusahannya sangatlah sedikit sekali bila dibandingkan
dengan kenikmatan yang telah diperolehnya selama ini. Dan hal yang pasti
adalah, bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan, karena kemudahan
diciptakan Allah swt jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan
kesulitan. Begitulah yang dimaksud Allah swt dalam surat Alam Nasyrah
[94]: 5-6, dengan melakukan pengulangan dua ayat dengan redaksi yang
sama.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا(5)إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا(6)
Artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (5), sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (6).”
Menurut
gramatika bahasa Arab, jika kata yang berbentuk ma’rifah (difinit/
tertentu) diulang sebutannya dua kali, maka yang dimaksud adalah satu.
Namun, jika kata yang berbentuk nakirah (indifinit/ tidak tentu) diulang
sebutannya dua kali, maka yang dimaksud adalah dua hal yang berbeda.
Dengan demikian, ayat di atas menegaskan bahwa al-‘usr yang berarti
kesulitan, bentuknya satu karena diungkapkan dalam bentuk ma’rifah.
Sementara yusr yang berarti kemudahan bentuknya dua, karena diungkapkan
dalam pola nakirah. Kesimpulannya adalah bahwa dalam satu kesulitan,
Allah swt telah menciptakan dua kemudahan atau lebih. Sehingga di dunia
ini pada hakikatnya kemudahan jauh lebih banyak dari kesulitan.
Berdasarkan
hal itu, maka tidak ada peluang bagi manusia untuk putus asa ketika
menghadapi suatu kesulitan. Tinggal lagi, usaha mereka untuk menemukan
jalan kemudahan guna keluar dari kesulitan yang sedang dihadapinya.
Semoga Bermanfaat yaahhh guyss
Nona Marleni ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Asalamualaikum,, Terima Kasih telah berkunjung di blog saya :)
Marleni ^_^